Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tradisi Sungkem: Makna, Filosofi, dan Keberlangsungan di Masyarakat Jawa dan Bali

Tradisi Sungkem: Makna, Filosofi, dan Keberlangsungan di Masyarakat Jawa dan Bali

Jelaskan Apa itu Tradisi Sungkem?

Tradisi Sungkem merupakan salah satu bentuk upacara adat Jawa yang masih sering dilakukan hingga saat ini. Sungkem adalah tindakan salam dalam bahasa Jawa, di mana seseorang menekuk satu atau kedua lututnya, kemudian menunduk dan meraih kaki atau telapak tangan orang yang akan disalami. Tradisi Sungkem biasanya dilakukan sebagai tanda penghormatan, rasa syukur, atau permohonan maaf.

Sejarah dan Asal Usul Tradisi Sungkem

Asal-usul tradisi Sungkem dapat ditelusuri dari sejarah Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-8. Pada masa itu, Sungkem dilakukan sebagai tanda penghormatan raja terhadap dewa-dewi. 

Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi Sungkem juga dilakukan oleh raja kepada rakyatnya, dan rakyat kepada sesama rakyat. Bahkan, Sungkem juga menjadi bagian dari upacara pernikahan di Jawa.

Makna dan Filosofi di Balik Tradisi Sungkem

Makna dari tradisi Sungkem sangat dalam dan memiliki banyak filosofi. Pertama-tama, Sungkem sebagai tindakan merendahkan diri dan mengakui kedudukan yang lebih tinggi, baik dalam hubungan sosial maupun spiritual. 

Dalam tradisi Jawa, orang yang lebih tua, orang yang memiliki jabatan atau kedudukan yang lebih tinggi, serta orang yang lebih berilmu dihormati dan diberikan Sungkem sebagai bentuk penghormatan.

Selain itu, Sungkem juga memiliki makna sebagai bentuk syukur dan permohonan maaf. Ketika seseorang melakukan Sungkem, ia mengekspresikan rasa syukur dan rasa terima kasih kepada orang yang disalami, dan juga memohon maaf jika pernah melakukan kesalahan terhadap orang tersebut.

Cara Melakukan Tradisi Sungkem

Cara melakukan Sungkem cukup sederhana, namun memiliki aturan yang perlu diikuti. Pertama-tama, seseorang harus berdiri tegap dengan kedua kaki rapat dan kedua tangan di depan dada. Kemudian, orang yang akan disalami akan menunjukkan sinyal agar seseorang melakukan Sungkem.

Setelah menerima sinyal, seseorang harus menekuk salah satu atau kedua lututnya dan menunduk, kemudian meraih kaki atau telapak tangan orang yang akan disalami. Saat meraih kaki atau telapak tangan, tangan seseorang harus menempel rapat dan menekan pelan. 

Selama melakukan Sungkem, seseorang juga harus menundukkan kepala dan mengucapkan salam atau doa dengan sopan.

Keberlangsungan Tradisi Sungkem

Tradisi Sungkem masih terus dilakukan hingga saat ini, terutama di daerah Jawa dan Bali. Meskipun ada beberapa perubahan dalam pelaksanaannya, namun makna dan filosofi di balik tradisi ini tetap dipertahankan.

Namun, keberlangsungan tradisi Sungkem mengalami tantangan dari perubahan gaya hidup masyarakat modern. Banyak generasi muda yang kurang memahami makna dan pentingnya tradisi ini, sehingga jarang melaksanakannya. 

Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk melestarikan tradisi Sungkem, terutama dengan memberikan edukasi dan pembelajaran mengenai makna dan filosofi di balik tradisi ini. Selain itu, keberlangsungan tradisi Sungkem juga dipengaruhi oleh perubahan sosial dan budaya. 

Dalam konteks keberagaman agama, tradisi Sungkem dapat diaplikasikan dalam berbagai agama, seperti Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha.  Hal ini menunjukkan bahwa tradisi Sungkem memiliki nilai universal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan

Tradisi Sungkem merupakan salah satu bentuk upacara adat Jawa yang memiliki makna dan filosofi yang dalam. Sungkem tidak hanya sebagai tindakan penghormatan dan syukur, namun juga sebagai bentuk permohonan maaf dan pengakuan kedudukan yang lebih tinggi. 

Meskipun keberlangsungan tradisi Sungkem mengalami tantangan dari perubahan gaya hidup masyarakat modern, namun tradisi ini tetap dipertahankan dan dapat diaplikasikan dalam berbagai agama.  Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk melestarikan tradisi Sungkem agar tetap hidup dan berkembang di masa depan.

Posting Komentar untuk "Tradisi Sungkem: Makna, Filosofi, dan Keberlangsungan di Masyarakat Jawa dan Bali"